Kisah Julaibib: Pemuda yang Dirindukan Bidadari

 

Kisah Julaibib: Pemuda yang Dirindukan Bidadari

Di Madinah, pada masa Rasulullah ﷺ, hidup seorang sahabat bernama Julaibib.

Ia bukan dari kalangan terpandang. Tubuhnya pendek, wajahnya tidak rupawan, miskin, dan tidak diketahui asal-usul nasabnya.

Ia tak punya rumah tetap — kadang tidur di serambi Masjid Nabawi, kadang di sudut-sudut kota.

Namun meskipun manusia memandangnya rendah, Allah memuliakannya dengan iman dan keberanian.

Dalam shalat, Julaibib selalu berada di barisan pertama.

Dalam jihad, ia selalu di barisan terdepan.

Dan dalam hatinya, hanya ada cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

Rasulullah ﷺ sangat menyayanginya.

Suatu hari, dengan suara lembut, beliau berkata,

“Wahai Julaibib, tidakkah engkau ingin menikah?”

Julaibib menunduk malu. Dengan nada rendah ia menjawab,

“Siapa yang mau menikahkan putrinya denganku, wahai Rasulullah?”

Rasulullah tersenyum dan menatapnya penuh kasih.

Selama tiga hari berturut-turut, beliau mengulangi pertanyaan yang sama, hingga akhirnya menggandeng tangan Julaibib dan membawanya ke rumah seorang tokoh Anshar.

Keluarga itu menyambut kedatangan Rasulullah dengan gembira, mengira bahwa beliau datang untuk meminang putri mereka bagi dirinya sendiri.

Namun suasana berubah ketika Rasulullah bersabda:

“Aku datang bukan untuk diriku. Aku datang untuk meminang putri kalian — untuk Julaibib.”

Sang ayah terdiam. Sang ibu menatap Rasulullah dengan terkejut, lalu berkata,

“Untuk Julaibib? Dia miskin, hitam, dan tanpa nasab…”

Namun sebelum Rasulullah menjawab, dari balik tirai terdengar suara lembut tapi tegas,

“Jika ini kehendak Rasulullah ﷺ, maka aku ridha.”

Rasulullah tersenyum bahagia dan mendoakan sang gadis.

“Ya Allah, limpahkanlah keberkahan untuk keduanya.”

Dan terjadilah pernikahan yang diberkahi langit — pernikahan seorang lelaki yang dianggap hina oleh dunia, tetapi dimuliakan oleh Allah.

Tak lama setelah pernikahan itu, pasukan Muslimin berangkat ke medan perang.

Julaibib ikut serta tanpa ragu. Ia bertempur dengan gagah berani hingga akhirnya gugur sebagai syahid.

Seusai peperangan, Rasulullah ﷺ bertanya kepada para sahabat:

“Adakah di antara kalian yang kehilangan seseorang?”

Mereka menjawab, “Tidak, wahai Rasulullah.”

Beliau kemudian bersabda dengan mata yang mulai berkaca,

“Tetapi aku kehilangan Julaibib. Carilah dia.”

Para sahabat pun mencari, hingga menemukan tubuh Julaibib terbaring di tanah — dikelilingi tujuh musuh yang telah ia kalahkan sebelum menghembuskan napas terakhirnya.

Rasulullah ﷺ datang menghampiri, lalu memeluk tubuh sahabatnya yang berlumur darah dan berkata lirih:

“Dia telah membunuh tujuh orang, lalu mereka membunuhnya. Ini adalah Julaibib, milikku dan aku miliknya.”

Dengan penuh kasih, Rasulullah mengafani dan menyalati Julaibib dengan tangan beliau sendiri.

Julaibib yang dahulu hidup sederhana, dipandang rendah oleh manusia, kini disambut oleh para malaikat dan bidadari surga.

Ia dimuliakan di langit sebagaimana ia diabaikan di bumi.

Karena kemuliaan bukan diukur dari rupa, harta, atau keturunan —

tetapi dari ketulusan iman dan ketaatan kepada Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda,

“Sungguh, Julaibib lebih dicintai oleh penduduk langit daripada oleh manusia di bumi.”

Posting Komentar

NextGen Digital Welcome to WhatsApp chat
Howdy! How can we help you today?
Type here...